Tuesday, 12 January 2016

#11 Jika dan Bila

A sequel to Bila dan Jika

***

Ketika Jika dan Bila akhirnya bicara

“Cappuccino… terbuat dari apa?”

Hanya itu. Bila mendongak sedikit menatap Jika yang berdiri di sisi mejanya sesaat setelah lelaki itu mengantarkan pesanannya. Seperti biasa, cappuccino. Standar.

Bodoh, jelas dari kopi lah. Tidak Mungkin kan cappuccino terbuat dari anggur? benak Bila menyergah cepat sesaat setelah kalimat tadi meluncur keluar dari mulutnya.

“Espresso,” jawab Jika berusaha se-kasual mungkin, meski ia tidak menyangkal ada sesuatu dalam dirinya yang membuat jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya. “Dasar dari hampir seluruh sajian kopi adalah espresso. Setidaknya semua sajian kopi yang ada di kedai ini”

Espresso. Bila menatap manik sang barista. Seperti matamu?

“Namamu,” Bila kembali membuka mulutnya. “Unik”

Jika hampir secara refleks menyentuh plat nama plastic yang menempel di apronnya kemudian tersenyum samar. “Aneh, ya?”

Lelaki bernama unik, bermata espresso, dan beraroma kopi. Bagi Bila, tidak ada yang aneh dengan semua itu. Kalau ada satu kata yang bisa mendeskripsikan Jika, kata itu pasti bukan ‘aneh’. Tapi menarik. Ya, Jika menarik.

“Tidak, tidak. Aku bilang unik, bukan unik aneh tapi unik seperti… Mm… Seperti espresso?”
Jika menautkan kedua alisnya meski senyum di bibirnya terlihat makin nyata.

“Jika—namamu itu—dasar dari semua. Unik. Jika bisa menjadi apa saja. Karena ‘jika’ adalah asumsi. Andai-andai. Asumsi bisa jadi apa saja, toh itu hanya asumsi. Semuanya berawal dari asumsi—dari Jika” saat menyelesaikan kalimatnya Bila baru sadar ia menatap Jika tanpa berkedip sedari tadi.

Mata espresso itu. Ah, Bila ingin menikmatinya perlahan-lahan seperti menikmati secangkir kopi yang masih panas.

“Aku tidak tahu namamu” ujar Jika.

Baru Bila berkedip. Kali ini giliran jantungnya yang mendapat dorongan untuk berdegup melampaui tempo normalnya, entah apa dan entah kenapa.

“Namaku…” Bila terdiam beberapa detik sebelum melanjutkan. “Bila”

Jika tersenyum. Bila mengikuti.


Dan begitu saja. Jika dan Bila bertemu di Semesta, berbicara, memulai sebuah kisah.

#10 Hesitation Mark


For so many times, I’ve been hesitating to touch the paper with the ink of my pen,
Like you hesitated to touch my skin with the tip of your fingers

But when they finally did, not even hell could stop what they do.
And I don’t want them to, either

Cause if my skin was the paper, I’d be begging for you to write your poetry on me.

Friday, 11 December 2015

#9 Kita Pernah Begitu, Dulu


Kita pernah begitu, dulu. Berseragam putih abu-abu, dibawah langit mendung dan hujan yang jatuh mengguyur jalan. Aku berbalut jaketmu, kamu berbalut pelukanku.

Ingatkah kamu? Hari itu hari Rabu. Kita basah kuyup dan akhirnya menyerah pada alam yang sedang mandi, memilih berhenti dan berteduh dibawah atap emperan toko buku. Menonton satu-satu air jatuh membentur tanah, mengaliri jalan, membentuk sungai impromptu sebelum akhirnya masuk membanjiri selokan.

Aku ingat. Ya, aku ingat kamu. Kamu dan rambutmu yang dihiasi bulir-bulir air hujan. Kamu dan buku tulis Sejarah yang tiba-tiba dikeluarkan dari ransel.

Aku mau buat perahu, begitu katamu waktu itu.

Aku tertawa. Boleh juga idemu, aku mau satu.

Kamu tersenyum, dan memberikanku satu kertas dari robekan buku Sejarahmu.

Kamu buat satu perahu. Aku buat satu perahu.

Mau dilayarkan dimana? tanyaku.

Lihat saja. Katamu, lalu membungkuk dan meletakkan perahu buatanmu di sungai impromptu dekat tempat kita berteduh. Perahumu bergerak menunggangi arus.

Aku berjongkok disampingmu dan melayarkan perahuku diatas sungai impromptu. Aku menatapmu, kamu menatapku. Kita tertawa. Hujan belum reda juga.

Dan dua perahu kertas, berlayar tanpa gentar mengarungi arus deras sungai impromptu. Perahumu, dan perahuku. Perahu kita.

***

Ah, hujan selalu membuatku rindu.


Now playing: suara hujan

Sunday, 22 November 2015

#8 Dibuang Sayang

November has been the toughest month of this year. So much things are happening in this one month, and I don't know if I should feel happy? Anxious? Tired? Maybe all of them.

But I won't talk about that in this post, no. I will talk about... poems. Now, this is a new area for me. Jadi gini, in one of those days of November gue tiba-tiba terpilih menjadi kontingen puisi dalam ajang perlombaan seni bertajuk UI Art War. Those of you yellow jacketers must know what that competition is. Dan ya, I was one of the kontingen (the fuck is the english of kontingen, please pardon my bilingual-ness).

It was on a whim really, I didn't even thought about applying at al at first. Tapi akibat peer pressure (???) akhirnya gue memutuskan untuk mencoba. Poem is never really my forte. Yes, I write but it's more like a short story, novelet, drabble. Never poems.

Imagine how shocked I am when I got the notification that I was choosen to be the kontingen.

So, in the process of that gue diharuskan untuk membuat dan mengirimkan beberapa puisi. And this post, is about the poems I wrote and the one I finally send in for the competition.

***

Kata Ibuku

Kata Ibuku,
Ilmu membuat seseorang terhormat
Ilmu mengangkat derajat,

Dan membuat semua tangga sosial terpanjat

Kata ibuku,
Nak, tuntutlah ilmu hingga ke negeri Cina
Kejarlah asa hingga angkasa
Tanyakan segalanya
Tanyakan tentang manusia
Tanyakan tentang dunia
Tanyakan tentang langit
Tanyakan tentang semesta

Tanyakan semua

Jangan kembali jika kau belum mengerti,
Begitu kata ibuku

Dan ketika akhirnya aku kembali
Benak sesak dengan sejuta kontemplasi
Ibu malah menatapku pedih
Dengan air mata jatuh membasahi pipi
Nak, apa yang terjadi?
Matanya berkaca ketika kuberikannya jawaban

Atas satu pertanyaan;

Siapa Tuhanmu?


Aku.

***

Kepada Yth, Bibit Penerus Bangsa

Lihat disana,
Mereka yang menyebut diri bibit penerus bangsa
Berbicara
Berorasi
Berdebat
Mereka bilang itu perjuangan
Perjuangan demi rakyat yang telah menafkahi
Tahun-tahun mereka duduk di kelas
Menuntut ilmu
Menggapai asa
Membangun ego

Lihat disana,
Mereka yang menyebut diri bibit penerus bangsa
Kini sudah dewasa
Berbicara dihadapan rakyat jelata
Mengumbar semua kecuali kerja nyata
Memuntahkan kata dengan bangga
Seolah mereka mahatahu
Dan rakyat hanyalah monyet dungu
Semua hanya demi sebuah usaha
Perlindungan ego dari benturan malu

Logika
Akuisisi
Fragmentasi
Akuntabilitas
Intervensi
Denominasi
Fluktuatif
Relatif
Inflasi
Deflasi

Tuan… kami rasanya ingin berteriak,
Kami tidak butuh kata,
Kami butuh nasi

*** 

Dia adalah Warna

Dia adalah Biru
Laut
Langit
Dan sepasang celana jeans usang di lemari
Dia Biru layaknya rindu
Dia Biru dan dia  sendu

Dia adalah Merah
Api
Mawar
Dan darah
Dia adalah Merah yang membara
Dia adalah Merah yang bergairah

Tapi dia adalah Abu-abu
Tidak merah dan tidak pula biru
Dia abu dan kelabu
Bagai mendung di hari Rabu
Dan hujan yang kemudian datang menyerbu

***

So those are the ones I wrote tapi gak dikirim. And this one is the one I finally send in (30 minutes before the deadline, yeah kids I like to live life dangerously).

***

Pesan Bumi untuk Planet Selanjutnya

Jika suatu saat nanti aku tak ada lagi,
Kawan,
Bolehkah kutitipkan padamu beban ini?

Maafkan aku yang tak lagi mampu,
Kawan,
Sesungguhnya, dan jika saja aku bisa
Urung aku membiarkanmu menanggungnya
Tak akan tega 'ku melihatmu menderita

Tapi, Kawan
Maafkan aku
Aku tak lagi mampu

Aku telah habis diperkosa ketamakan
Diinjak-injak keangkuhan
Dimutilasi ambisi
Dibakar oleh benci

Dan aku, Bumi,
Sudah tidak kuat lagi.

***

It didn't win, just as I expected. But hey, I was a newbie and it's only normal (isn't it?) But I'm proud of myself. Lagian, deklamatornya menang (YAAAAAAAYY!) He got 2nd place, isn't he just great? 

I guess that's all for this post. I'll be posting another drabble soon! Stay tune aight, Love?

xoxo
F.

Thursday, 29 October 2015

#7 Puisi Dini Hari // A Poem from the Dawn

Pukul 3 pagi itu elegi
Jika tidak bagi kalian, bagiku iya
Pukul 3 pagi yang ada hanya sunyi
Memperkuat suara-suara dalam kepala yang tak henti-hentinya berbunyi
Mencoba mengaburkan garis antara kenyataan dan imaji

Pukul 3 pagi itu penuh kontemplasi
Apa kau akan bangun pukul 6 nanti lalu mandi dan menyongsong hari
Atau memilih untuk tidur lagi hingga petang menyambangi

Pukul 3 pagi aku tidak sedang bermimpi
Tapi kenapa,
Kenapa aku bisa merasakan hadirmu disini?

//

But I love you when it was 4 am
And you were lying next to me
Eyes wide open
Consumed by your thoughts
Then you looked at me
And we closed our eyes
Intertwined our hands
And in that moment, baby
I know
That I want to consume your 4 am thoughts each moment in my life
In that moment, baby, I swear that gravity is not working for me and you
In that moment
I know those eyes will be mine forever

In collaboration with the dearest babe, Soraya. 

Monday, 19 October 2015

#6 Bila dan Jika

Bila dan Jika bertemu di Semesta.

Bukan, ini bukan metafora melainkan harfiah. Bila, perempuan di usia awal 20; senyum secerah langit musim panas, mata seteduh pohon beringin belakang sekolah. Jika, lelaki di usia pertengahan 20; beraroma seperti kopi dan masa lalu, seorang barista di sebuah kedai bernama Semesta.

Saat Jika menyapa, Bila tersenyum.

Secangkir kopi mengikuti duduknya Bila di sudut Semesta. Cappuccino. Standar memang, minuman kopi campur susu dengan hiasan berbentuk daun diatasnya yang dibuat dari hasil percampuran krim dengan busa dan tangan dingin Jika. Standar. Lagipula Bila memang standar seperti itu, ini menurut Bila sendiri tentu saja.

Menurut Jika, lain lagi. Bila adalah segala hal spesial bercampur dalam bentuk seorang perempuan. Lebih spesial daripada martabak dengan 3 butir telur bebek. Lebih spesial daripada promo spesial supermarket-supermarket menjelang hari raya. Lebih spesial daripada paket ayam goreng plus nasi di restoran fastfood sebelah. Bila adalah… Bila.

Bila akan duduk di sudut itu selama berjam-jam berhadapan dengan laptopnya, sesekali mencoretkan sesuatu diatas notebook dengan cover kulit sintetis. Sesekali menyesap cappuccinonya. Sesekali mengerutkan dahi. Sesekali mengetukkan jemari diatas meja kayu. Dan sesekali memanggil Jika untuk memesan sepotong cheese cake atau pai apel.

Dan Jika, Jika hanya akan berada di tempatnya, membuatkan kopi untuk para pelanggan. Sesekali mengantarkan pesanan. Sesekali mengobrol dengan pelanggan. Sesekali menjadi kasir dadakan. Sering kali mencuri pandang kearah Bila, penasaran apa yang sedang ia lakukan dibalik laptop berlambang apel yang sudah tergigit itu.

Menuliskah ia? Membacakah ia? Menggambarkah ia?

Jika tidak pernah memiliki jawaban pasti atas pertanyaan-pertanyaan tersebut, karena dalam setiap kesempatan dimana ia menghampiri meja Bila dengan secangkir kopi atau sepotong cheese cake, Bila selalu menutup laptopnya seolah apa yang sedang ia kerjakan adalah tugas rahasia dari presiden.

“Terimakasih” Bila selalu berkata dengan menyum, menunggu Jika kembali ke tempatnya sebelum membuka kembali laptop berlambang apel.

Bila selalu berhasil menggelitik rasa penasaran Jika. Bila adalah misteri, tapi bukan jenis misteri yang seram seperti dalam serial Goosebumps—buku bacaan Jika saat SD dulu. Bila adalah misteri seperti edelweiss adalah misteri. Bila adalah… Bila.

***

Bila tidak tahu sejak kapan karya-karyanya berubah menjadi sebuah koleksi candid portrait seorang barista bernama aneh itu. Ya, namanya Jika. Ia tahu dari plat nama plastik yang menempel di apron si barista bernama aneh saat dia mengantarkan cappuccino pesanannya.

Orangtua macam apa yang member nama anaknya Jika?

Seperti sebuah cerita dengan ending yang menggantung, nama itu rasanya seperti mengawang-awang. Jika… Jika hujan turun? Jika matahari terbit dari barat? Jika ku mati, kau juga mati?

Jika, Jika, Jika…

Ugh, rasanya Bila ingin mengantukkan kepalanya ke dinding Semesta saja.

Dicoretkannya pensil diatas notebook dengan frustasi. Garis demi garis tertoreh membentuk wajah seseorang. Seorang pria. Seorang pria dengan apron coklat dan mata sehitam espresso.

Sial. Bila merobek kertas itu dari bukunya dan meremasnya gemas. Kenapa ia malah menggambar Jika lagi?

***

Pukul 4 sore biasanya Bila meminta bill.

Ia kemudian akan membawa bill tersebut ke kasir sebelum akhirnya melangkah keluar Semesta, meninggalkan Jika yang lagi-lagi harus puas hanya dengan mencuri pandang dari jauh kearahnya. Begitu saja, tanpa tambahan apa-apa.

Hari ini pun begitu. Bila mengangkat tangannya, memanggil waiter, meminta bill, waiter memberikan bill, Bila membaca bill itu sesaat lalu menyelipkan sejumlah uang dan membawanya ke kasir, kemudian pergi.

Dan Jika, Jika masih di tempatnya, bersiap membuatkan pesanan pelanggan baru yang datang sesaat setelah Bila pergi.

Jika sedang sibuk meracik segelas frappucino saat salah seorang rekan kerjanya mendaratkan tepukan ringan di bahunya. “Apa?” katanya.

Rekannya tidak berkata apa-apa, melainkan hanya menyerahkan sebuah kertas lecek yang terlipat jadi dua. Ia menatap Jika dengan senyum penuh arti kemudian mengarahkan dagunya ke sudut tempat Bila biasa duduk.

“Kayaknnya barista kita punya fans nih”

Jika menuangkan frappucino racikannya ke gelas saji dan mengelap tangan ke apron sebelum menerima kertas tersebut dengan perasaan aneh. Siapa yang nge-fans dengan siapa? Dibukanya lipatan kertas dengan hati-hati, seolah ia sedang membuka gulungan sejarah peninggalan kerajaan zaman dulu.

Apa yang tertoreh diatas kertas itu berhasil menghapus perasaan anehnya tadi dan menggantinya dengan sebuah senyuman lebar di wajah. Masa bodoh kalau ia dianggap gila oleh rekannya maupun pelanggan yang sedang menunggu minuman mereka diracik olehnya karena dirinya yang tiba-tiba tersenyum seperti itu.

Satu-satunya yang ia pedulikan sekarang hanyalah coretan pensil yang membentuk wajahnya diatas kertas lecek tersebut. Dan Bila.

***

Bila tidak pernah merasa mencari apapun, tapi ia mendapati dirinya menemukan.

Jika tidak pernah merasa dirinya menemukan apapun, dan kini ia mendapati dirinya mencari.


Wednesday, 7 October 2015

#5 Don't Talk to Strangers on The Internet

Your mother used to tell you that you shouldn’t talk to strangers on the internet for he might be a 40 year old bald man who intended to kidnap you and tie you on a chair inside his dark cramped basement somewhere only God knows. For she might be a lesbian pedophile whose only purpose is drive her way into your body and stain you with her sin. For they might be a predator that would (and could) eat you up alive.

But, does your mother ever told you about this one? The one whose words feel more calming than the smell of rain on a lazy Sunday morning. The one whose words taste like ice cream on a hot summer days. The one whose words would echoes inside your head like a broken record playing on repeat (you’d remember every single damn of letters and punctuation they used on it, oh boy, you would). The one whose words you knew would slice your heart open when they leave but you also knew that you wouldn’t mind the bleeding and the numbing pain you’d feel.

I love you.

It’ll feel real, fuck it’ll feel so damn real. It’s as if you could clearly hear their voice whispering those words on your ear with their sleepy voice every morning. It’s as if they’re here, lying on the vacant side of your bed, arms wrapped around your waist, face nestled on the crook of your neck, and lips slightly brushed on your skin making your heart beats 10 times faster than its usual tempo. It’s as if you could feel their skin just right on your fingertips.

It’s as if they’re here.

Except they’re not. I love you.  No, the words doesn’t roll down their tongue coated in their sleepy voice greeting you the same way the sun greets the earth every morning. Instead it came on a form of digitally transmitted electromagnetic signal that is a plain Arial on your dimly lit phone screen. They’re not here. They won’t ever be here.

I love you too, but I wish I don’t.

Your mother used to tell you that you shouldn’t talk to strangers on the internet for they might be dangerous in every logical reason there is. But what she didn’t tell you is that they could make you fall deep in love with them in every illogical reason there is. And that, my dear, is far more dangerous than those things she used to tell you.