Showing posts with label Poetry. Show all posts
Showing posts with label Poetry. Show all posts

Tuesday, 19 January 2016

#12 Calm Me With Your Rage

We’re toxic as hell.
With you, it’s always thunderstorms and lightning bolts.
You screamed at me. I screamed at you.
Head to head. Chest to chest. Eyes to eyes.
Filled with hatred. Frustration. Desperation.

Want. Longing. Passion.

The next time I know, my back is already against the cold wall, your hands are clamped on my wrist, and our lips are claiming what’s theirs.

Ravish me.
Make me yours.

Calm me with your rage.

Now Playing: Love The Way You Lie - Eminem f.t. Rihanna

Tuesday, 12 January 2016

#10 Hesitation Mark


For so many times, I’ve been hesitating to touch the paper with the ink of my pen,
Like you hesitated to touch my skin with the tip of your fingers

But when they finally did, not even hell could stop what they do.
And I don’t want them to, either

Cause if my skin was the paper, I’d be begging for you to write your poetry on me.

Sunday, 22 November 2015

#8 Dibuang Sayang

November has been the toughest month of this year. So much things are happening in this one month, and I don't know if I should feel happy? Anxious? Tired? Maybe all of them.

But I won't talk about that in this post, no. I will talk about... poems. Now, this is a new area for me. Jadi gini, in one of those days of November gue tiba-tiba terpilih menjadi kontingen puisi dalam ajang perlombaan seni bertajuk UI Art War. Those of you yellow jacketers must know what that competition is. Dan ya, I was one of the kontingen (the fuck is the english of kontingen, please pardon my bilingual-ness).

It was on a whim really, I didn't even thought about applying at al at first. Tapi akibat peer pressure (???) akhirnya gue memutuskan untuk mencoba. Poem is never really my forte. Yes, I write but it's more like a short story, novelet, drabble. Never poems.

Imagine how shocked I am when I got the notification that I was choosen to be the kontingen.

So, in the process of that gue diharuskan untuk membuat dan mengirimkan beberapa puisi. And this post, is about the poems I wrote and the one I finally send in for the competition.

***

Kata Ibuku

Kata Ibuku,
Ilmu membuat seseorang terhormat
Ilmu mengangkat derajat,

Dan membuat semua tangga sosial terpanjat

Kata ibuku,
Nak, tuntutlah ilmu hingga ke negeri Cina
Kejarlah asa hingga angkasa
Tanyakan segalanya
Tanyakan tentang manusia
Tanyakan tentang dunia
Tanyakan tentang langit
Tanyakan tentang semesta

Tanyakan semua

Jangan kembali jika kau belum mengerti,
Begitu kata ibuku

Dan ketika akhirnya aku kembali
Benak sesak dengan sejuta kontemplasi
Ibu malah menatapku pedih
Dengan air mata jatuh membasahi pipi
Nak, apa yang terjadi?
Matanya berkaca ketika kuberikannya jawaban

Atas satu pertanyaan;

Siapa Tuhanmu?


Aku.

***

Kepada Yth, Bibit Penerus Bangsa

Lihat disana,
Mereka yang menyebut diri bibit penerus bangsa
Berbicara
Berorasi
Berdebat
Mereka bilang itu perjuangan
Perjuangan demi rakyat yang telah menafkahi
Tahun-tahun mereka duduk di kelas
Menuntut ilmu
Menggapai asa
Membangun ego

Lihat disana,
Mereka yang menyebut diri bibit penerus bangsa
Kini sudah dewasa
Berbicara dihadapan rakyat jelata
Mengumbar semua kecuali kerja nyata
Memuntahkan kata dengan bangga
Seolah mereka mahatahu
Dan rakyat hanyalah monyet dungu
Semua hanya demi sebuah usaha
Perlindungan ego dari benturan malu

Logika
Akuisisi
Fragmentasi
Akuntabilitas
Intervensi
Denominasi
Fluktuatif
Relatif
Inflasi
Deflasi

Tuan… kami rasanya ingin berteriak,
Kami tidak butuh kata,
Kami butuh nasi

*** 

Dia adalah Warna

Dia adalah Biru
Laut
Langit
Dan sepasang celana jeans usang di lemari
Dia Biru layaknya rindu
Dia Biru dan dia  sendu

Dia adalah Merah
Api
Mawar
Dan darah
Dia adalah Merah yang membara
Dia adalah Merah yang bergairah

Tapi dia adalah Abu-abu
Tidak merah dan tidak pula biru
Dia abu dan kelabu
Bagai mendung di hari Rabu
Dan hujan yang kemudian datang menyerbu

***

So those are the ones I wrote tapi gak dikirim. And this one is the one I finally send in (30 minutes before the deadline, yeah kids I like to live life dangerously).

***

Pesan Bumi untuk Planet Selanjutnya

Jika suatu saat nanti aku tak ada lagi,
Kawan,
Bolehkah kutitipkan padamu beban ini?

Maafkan aku yang tak lagi mampu,
Kawan,
Sesungguhnya, dan jika saja aku bisa
Urung aku membiarkanmu menanggungnya
Tak akan tega 'ku melihatmu menderita

Tapi, Kawan
Maafkan aku
Aku tak lagi mampu

Aku telah habis diperkosa ketamakan
Diinjak-injak keangkuhan
Dimutilasi ambisi
Dibakar oleh benci

Dan aku, Bumi,
Sudah tidak kuat lagi.

***

It didn't win, just as I expected. But hey, I was a newbie and it's only normal (isn't it?) But I'm proud of myself. Lagian, deklamatornya menang (YAAAAAAAYY!) He got 2nd place, isn't he just great? 

I guess that's all for this post. I'll be posting another drabble soon! Stay tune aight, Love?

xoxo
F.

Thursday, 29 October 2015

#7 Puisi Dini Hari // A Poem from the Dawn

Pukul 3 pagi itu elegi
Jika tidak bagi kalian, bagiku iya
Pukul 3 pagi yang ada hanya sunyi
Memperkuat suara-suara dalam kepala yang tak henti-hentinya berbunyi
Mencoba mengaburkan garis antara kenyataan dan imaji

Pukul 3 pagi itu penuh kontemplasi
Apa kau akan bangun pukul 6 nanti lalu mandi dan menyongsong hari
Atau memilih untuk tidur lagi hingga petang menyambangi

Pukul 3 pagi aku tidak sedang bermimpi
Tapi kenapa,
Kenapa aku bisa merasakan hadirmu disini?

//

But I love you when it was 4 am
And you were lying next to me
Eyes wide open
Consumed by your thoughts
Then you looked at me
And we closed our eyes
Intertwined our hands
And in that moment, baby
I know
That I want to consume your 4 am thoughts each moment in my life
In that moment, baby, I swear that gravity is not working for me and you
In that moment
I know those eyes will be mine forever

In collaboration with the dearest babe, Soraya.