Thursday, 2 June 2016

#14 Telepon Umum di Belanda



“Halo?”

Seorang gadis berdiri di dalam kotak kaca, mencengkram erat gagang telepon, menggigit bibirnya, menahan tangis yang sedikit lagi akan pecah.

“Apa kabar?”

Hanya dua kata yang membalas sapaannya untuk seseorang di ujung sana. Dua kata, dan gadis itu hampir yakin ia bisa merasakan air mata meleleh membasahi kedua pipinya yang dingin diterpa angin sore itu. Dua kata yang terucap oleh satu suara lemah yang keluar dari corong telepon umum yang dicengkramnya erat.

Suara itu. Ia ingin pulang—ingin sekali pulang. Ke rumahnya; ke pelukan lelaki bersuara lemah diujung sambungan telepon.

Tapi ia adalah gadis yang kuat. Buktinya, ia bisa pergi meninggalkan kekasihnya ribuan kilometer jauhnya demi meraih mimpi di negeri yang dulu pernah menjajah bangsanya. Sendiri, tanpa siapapun disini selain dirinya dan mesin telepon yang menjadi penyambung rindunya kepada sang lelaki.

Gadis yang kuat tidak boleh menangis, ia berkali-kali mengucap kepada diri sendiri.

“Aku baik… kamu?”

Aku rindu kamu. Aku ingin pulang. Aku tidak mau berada disini.

“Aku pun. Bagaimana disana?”

Gadis itu menarik nafas panjang. Terlalu dingin disini tanpa pelukmu. Terlalu sepi disini tanpa hadirmu. Aku rindu kamu. Aku ingin pulang. Aku tidak mau berada disini.

“Disini… menyenangkan. Aku belajar banyak hal baru, mendapat banyak teman baru pula…”

Gadis yang kuat tidak boleh menangis.

“Senang mendengarnya” lelaki diujung sambungan telepon tertawa pelan. Air mata yang jatuh membasahi pipi sang gadis mengalir semakin deras.

“Bagaimana kondisimu? Sudah mendingan?” gadis itu bertanya.

Terdengar tarikan nafas panjang diujung sana. Gadis itu tahu jawabannya, dan ia tidak menyukai pengetahuan itu. Ia ingin berpura-pura bahwa diujung sana lelakinya sedang menunggunya dengan senyum cerah dan lengan yang akan memeluknya erat ketika ia pulang nanti. Ia ingin berpura-pura lelakinya tidak sedang terbaring lemah menghitung detik demi detik, berharap semoga ia masih bisa memeluk sang gadis ketika mereka bertemu nanti. Ia ingin berpura-pura mereka baik-baik saja.

“Lebih baik dari kemarin”

Mereka berdua tahu itu bohong.

“Aku rindu kamu. Tunggu aku?”

“Pasti”

Mereka berdua tahu itu bohong.


THE END

Friday, 20 May 2016

#13 Tentang Gitar, Anak Kucing, dan Gudang Tua

A spin-off from this on-going story I write "4: The Misfortunes of Us"
Please give it a read if you may :)


***



Belakangan ini Audy menemukan dirinya dibuat penasaran setengah mati oleh seorang senior aneh bernama Panji.

Panji Suryoatmodjo. 12 IPS 1. Kacamata. Hoodie kedodoran. Sepatu lusuh. Rambut berantakan. Gitar. Kata-kata itu mungkin merupakan sekian hal yang akan kalian dengar kalau kalian bertanya siapa itu Panji kepada siswa siswi SMA Pelita Bangsa.

Panji selalu datang tepat saat bel sekolah berbunyi membawa motor vespanya yang terlihat antik dengan tas gitar nangkring di bahunya yang kurus. Rambutnya tidak pernah rapi dan dibiarkan jatuh menutupi setengah lensa kacamata yang ia kenakan. Sepatunya lusuh dan seragamnya selalu dilapisi hoodie kedodoran yang hampir setiap minggu berganti warna dan sablonan.

Audy mengenal Panji di suatu Senin saat upacara bendera. Perkenalan mereka bukan perkenalan klise seperti di novel-novel teenlit. Tidak. Panji bukan si anak badung yang habis memanjat pagar sekolah karena terlambat dan terpaksa bersembunyi di barisan adik kelas agar tidak ketahuan guru kalau dia tidak memakai atribut upacara yang lengkap. Panji datang ke lapangan dengan santai setelah memarkirkan vespanya, ia bahkan tidak melepas hoodie kuning cerah yang dikenakannya hari itu dan langsung berdiri di barisan paling belakang kelas 11 IPS 1. Tepat disebelah Audy.

Audy penasaran kenapa Panji bisa-bisanya ikut upacara dengan memakai hoodie seperti itu tanpa ditegur guru.

“Audy Salsabila Irawan?” kemudian Panji berbisik saat Pembukaan UUD 1945 tengah dibacakan di depan sana.

Audy tidak yakin apakah Panji sedang berbicara dengan dirinya, tapi memangnya ada Audy Salsabila Irawan lain di sekolah ini selain dirinya?

“Iya, Kak?” Audy balas berbisik.

“Gak apa. Cuma pengen memastikan kamu masih ingat nama kamu sendiri atau nggak. Siapa tau kamu mengalami amnesia parsial”

Panji nyengir sementara Audy hanya berdiri disitu menatap Panji dengan kebingungan yang amat sangat.

***

Di lain hari, Audy menemukan Panji di depan kelasnya memeluk gitar dan memetik senarnya dengan lembut.

“Audy Salsabila Irawan. Halo” Panji menyapanya dengan senyuman yang sama persis dengan yang ditunjukkan di pertemuan pertama mereka.

Audy yang kala itu baru kembali dari kantin bersama Sharon dan Rena hanya bisa melengkungkan senyum aneh atas kehadiran sang senior di depan kelasnya. “Kak, panggilnya Audy aja”

Ia bisa mendengar Sharon terkikik pelan disisinya, sementara Rena hanya cengengesan. Lalu dengan kurangajarnya, kedua temannya itu pamit meninggalkannya berdua dengan Panji dengan alasan yang sungguh sangat tidak natural (Sharon: “Dy, gue balik kelas ya. Mau ngerjain LKS dulu, bye” Sharon tidak pernah mengerjakan LKS di sekolah, ia selalu menyelesaikan PR-nya di rumah) (Rena: “Gue masuk ya, Dy. Mau ketemu sama Rangga” Rangga tidak sekelas dengan Rena, Rangga sekelas dengan Sharon).

“Teman kamu jujur-jujur ya?” komentar Panji sesaat setelah Sharon dan Rena meninggalkan mereka berdua.

“Hah? Maksudnya?” Audy tambah melongo.

“Mereka gak jago ngeles, kelihatan banget lagi bohong” Panji terkekeh lalu bangkit dari bangku kayu yang didudukinya sedari tadi. “Yaudah, saya pamit dulu ya? Saya tadi kesini cuma mau memverifikasi informasi kalau kamu emang Audy Salsabila Irawan yang baris disebelah saya pas upacara Senin kemarin”

“O…kay” Audy mengangguk pelan seraya menatap Panji yang melangkah menuju tangga. “Balik kelas, Kak?”

Panji berhenti sejenak lalu menoleh kearah Audy. “Nggak. Mau ngamen”

Hanya itu, lalu ia bergerak cepat menaiki tangga.

Audy masih terdiam di tempatnya, menatap Panji hingga punggung cowok itu menghilang dibalik belokan tangga menuju lantai tiga. Hari ini hoodie-nya ganti lagi. Warna biru tua.

***

Dari desas-desus warga sekolah, Audy berhasil menyimpulkan satu hal tentang senior aneh bernama Panji ini. Dia sangat jago ngeles. Ingat bagaimana Panji bisa ikut upacara dengan mengenakan hoodie-nya yang berwarna kuning cerah itu? Panji bilang kepada guru bahwa ia sedang mengalami alergi dan kulitnya akan gatal-gatal kalau terkena udara luar dan sinar matahari (yang Audy heran, kenapa sang guru dengan mudahnya percaya). Panji juga selalu punya 1001 alasan setiap kali ia tertangkap oleh kesiswaan karena atribut seragamnya tidak lengkap atau tidak sesuai dengan peraturan yang ada. Entah itu gespernya rusak karena dipakai buat melempar anjing yang mengejarnya saat perjalanan ke sekolah, kaus kakinya yang hilang dicuri tetangga dari jemuran di rumahnya, sampai sepatunya yang bolong digigiti tikus jadi ia terpaksa mengenakan sepatu berwarna tidak hitam hari itu. Intinya, ia hampir selalu lolos dari pengawasan para guru kesiswaan tersebut.

Selain itu, dari desas-desus yang sama Audy juga mengetahui kebiasaan aneh Panji, yaitu menghilang. Bukan menghilang secara tiba-tiba seperti jin, tapi Panji seringkali ditemukan ngeloyor keluar kelas bersama gitarnya saat jam makan siang dan tidak kembali lagi sampai jam pelajaran terakhir. Tidak ada yang tahu pasti anak itu kemana, dan tidak ada juga yang mau repot mencari tahu.

Tapi Audy ingin tahu.

Jadi hari ini, Audy diam-diam menyelinap keluar kelas tepat saat bel makan siang berbunyi dan menunggu di balik tembok dekat kelas Panji berada.  Begitu dilihatnya sosok Panji keluar kelas dengan gitarnya, Audy langsung membuntuti cowok itu dari belakang.

Panji menaiki tangga. Audy mengikuti.

Panji berbelok kearah lab komputer. Audy masih mengikuti.

Panji memasuki bagian lorong tersepi diseluruh area SMA Bangsa. Audy terus mengikuti meski perasaannya mulai tidak enak.

Panji memasuki ruangan gudang di pojok lantai tiga. Audy menghentikan langkahnya.

Ngapain dia ke gudang?

Audy melangkah dengan ragu menuju pintu gudang. Di dengarnya Panji seperti berbicara dengan seseorang (atau sesuatu?) kemudian tak lama, suara petikan gitar pun terdengar. Lalu disusul dengan satu suara lagi; suara Panji yang sedang menyanyikan sebuah lagu.

Audy memberanikan diri mengintip dari balik pintu gudang yang setengah terbuka. Dilihatnya Panji sedang duduk di salahsatu bangku tua, bersama gitarnya, bernyanyi. Di hadapannya ada kotak kardus bekas berisi anak-anak kucing yang mengeong pelan mengiringi lagu yang sedang ia mainkan.

“Halo, Audy”

Audy tersentak saat Panji berhenti bermain dan menoleh kearahnya dengan sebentuk cengiran di wajahnya. Mata cowok itu terlengkung seperti bulan sabit dibalik lensa kacamata yang dikenakannya, dan saat itu Audy merasa jantungnya berdegup lebih kencang dari tempo yang seharusnya.

“M-maaf kak. Aku… Aku..”

“Sini yuk. Kenalan sama teman-teman saya”

Sebuah undangan. Audy masih terdiam di depan pintu menatap Panji, lalu anak-anak kucing kecil yang mengeong halus di sebuah kotak kardus bekas.

“Ayo, gak usah malu-malu” Panji menatap Audy dengan sorot hangat yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Audy luluh.

“Sini duduk,” Panji menarik satu bangku lagi ke sisinya dan menepuk-nepuknya. Lagi-lagi sebuah undangan.

Audy menyerah, ia melangkah masuk ke dalam gudang tersebut dan duduk di bangku sebelah Panji sementara Panji lanjut bersenandung untuk anak-anak kucing yang tampaknya yatim piatu itu. Dan untuk Audy.

Andai matamu melihat aku
Terungkap semua isi hatiku
Alam sadarku, alam mimpiku
Semua milkmu, andai kau tau…


Nowplaying: Nidji - Rahasia  Hati

Tuesday, 19 January 2016

#12 Calm Me With Your Rage

We’re toxic as hell.
With you, it’s always thunderstorms and lightning bolts.
You screamed at me. I screamed at you.
Head to head. Chest to chest. Eyes to eyes.
Filled with hatred. Frustration. Desperation.

Want. Longing. Passion.

The next time I know, my back is already against the cold wall, your hands are clamped on my wrist, and our lips are claiming what’s theirs.

Ravish me.
Make me yours.

Calm me with your rage.

Now Playing: Love The Way You Lie - Eminem f.t. Rihanna

Tuesday, 12 January 2016

#11 Jika dan Bila

A sequel to Bila dan Jika

***

Ketika Jika dan Bila akhirnya bicara

Cappuccino… terbuat dari apa?”

Hanya itu. Bila mendongak sedikit menatap Jika yang berdiri di sisi mejanya sesaat setelah lelaki itu mengantarkan pesanannya. Seperti biasa, cappuccino. Standar.

Bodoh, jelas dari kopi lah. Tidak Mungkin kan cappuccino terbuat dari anggur? benak Bila menyergah cepat sesaat setelah kalimat tadi meluncur keluar dari mulutnya.

Espresso,” jawab Jika berusaha se-kasual mungkin, meski ia tidak menyangkal ada sesuatu dalam dirinya yang membuat jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya. “Dasar dari hampir seluruh sajian kopi adalah espresso. Setidaknya semua sajian kopi yang ada di kedai ini”

Espresso. Bila menatap manik sang barista. Seperti matamu?

“Namamu,” Bila kembali membuka mulutnya. “Unik”

Jika hampir secara refleks menyentuh plat nama plastic yang menempel di apronnya kemudian tersenyum samar. “Aneh, ya?”

Lelaki bernama unik, bermata espresso, dan beraroma kopi. Bagi Bila, tidak ada yang aneh dengan semua itu. Kalau ada satu kata yang bisa mendeskripsikan Jika, kata itu pasti bukan ‘aneh’. Tapi menarik. Ya, Jika menarik.

“Tidak, tidak. Aku bilang unik, bukan unik aneh tapi unik seperti… Mm… Seperti espresso?”
Jika menautkan kedua alisnya meski senyum di bibirnya terlihat makin nyata.

“Jika—namamu itu—dasar dari semua. Unik. Jika bisa menjadi apa saja. Karena ‘jika’ adalah asumsi. Andai-andai. Asumsi bisa jadi apa saja, toh itu hanya asumsi. Semuanya berawal dari asumsi—dari Jika” saat menyelesaikan kalimatnya Bila baru sadar ia menatap Jika tanpa berkedip sedari tadi.

Mata espresso itu. Ah, Bila ingin menikmatinya perlahan-lahan seperti menikmati secangkir kopi yang masih panas.

“Aku tidak tahu namamu” ujar Jika.

Baru Bila berkedip. Kali ini giliran jantungnya yang mendapat dorongan untuk berdegup melampaui tempo normalnya, entah apa dan entah kenapa.

“Namaku…” Bila terdiam beberapa detik sebelum melanjutkan. “Bila”

Jika tersenyum. Bila mengikuti.


Dan begitu saja. Jika dan Bila bertemu di Semesta, berbicara, memulai sebuah kisah.

#10 Hesitation Mark


For so many times, I’ve been hesitating to touch the paper with the ink of my pen,
Like you hesitated to touch my skin with the tip of your fingers

But when they finally did, not even hell could stop what they do.
And I don’t want them to, either

Cause if my skin was the paper, I’d be begging for you to write your poetry on me.

Friday, 11 December 2015

#9 Kita Pernah Begitu, Dulu


Kita pernah begitu, dulu. Berseragam putih abu-abu, dibawah langit mendung dan hujan yang jatuh mengguyur jalan. Aku berbalut jaketmu, kamu berbalut pelukanku.

Ingatkah kamu? Hari itu hari Rabu. Kita basah kuyup dan akhirnya menyerah pada alam yang sedang mandi, memilih berhenti dan berteduh dibawah atap emperan toko buku. Menonton satu-satu air jatuh membentur tanah, mengaliri jalan, membentuk sungai impromptu sebelum akhirnya masuk membanjiri selokan.

Aku ingat. Ya, aku ingat kamu. Kamu dan rambutmu yang dihiasi bulir-bulir air hujan. Kamu dan buku tulis Sejarah yang tiba-tiba dikeluarkan dari ransel.

Aku mau buat perahu, begitu katamu waktu itu.

Aku tertawa. Boleh juga idemu, aku mau satu.

Kamu tersenyum, dan memberikanku satu kertas dari robekan buku Sejarahmu.

Kamu buat satu perahu. Aku buat satu perahu.

Mau dilayarkan dimana? tanyaku.

Lihat saja. Katamu, lalu membungkuk dan meletakkan perahu buatanmu di sungai impromptu dekat tempat kita berteduh. Perahumu bergerak menunggangi arus.

Aku berjongkok disampingmu dan melayarkan perahuku diatas sungai impromptu. Aku menatapmu, kamu menatapku. Kita tertawa. Hujan belum reda juga.

Dan dua perahu kertas, berlayar tanpa gentar mengarungi arus deras sungai impromptu. Perahumu, dan perahuku. Perahu kita.

***

Ah, hujan selalu membuatku rindu.


Now playing: suara hujan

Sunday, 22 November 2015

#8 Dibuang Sayang

November has been the toughest month of this year. So much things are happening in this one month, and I don't know if I should feel happy? Anxious? Tired? Maybe all of them.

But I won't talk about that in this post, no. I will talk about... poems. Now, this is a new area for me. Jadi gini, in one of those days of November gue tiba-tiba terpilih menjadi kontingen puisi dalam ajang perlombaan seni bertajuk UI Art War. Those of you yellow jacketers must know what that competition is. Dan ya, I was one of the kontingen (the fuck is the english of kontingen, please pardon my bilingual-ness).

It was on a whim really, I didn't even thought about applying at al at first. Tapi akibat peer pressure (???) akhirnya gue memutuskan untuk mencoba. Poem is never really my forte. Yes, I write but it's more like a short story, novelet, drabble. Never poems.

Imagine how shocked I am when I got the notification that I was choosen to be the kontingen.

So, in the process of that gue diharuskan untuk membuat dan mengirimkan beberapa puisi. And this post, is about the poems I wrote and the one I finally send in for the competition.

***

Kata Ibuku

Kata Ibuku,
Ilmu membuat seseorang terhormat
Ilmu mengangkat derajat,

Dan membuat semua tangga sosial terpanjat

Kata ibuku,
Nak, tuntutlah ilmu hingga ke negeri Cina
Kejarlah asa hingga angkasa
Tanyakan segalanya
Tanyakan tentang manusia
Tanyakan tentang dunia
Tanyakan tentang langit
Tanyakan tentang semesta

Tanyakan semua

Jangan kembali jika kau belum mengerti,
Begitu kata ibuku

Dan ketika akhirnya aku kembali
Benak sesak dengan sejuta kontemplasi
Ibu malah menatapku pedih
Dengan air mata jatuh membasahi pipi
Nak, apa yang terjadi?
Matanya berkaca ketika kuberikannya jawaban

Atas satu pertanyaan;

Siapa Tuhanmu?


Aku.

***

Kepada Yth, Bibit Penerus Bangsa

Lihat disana,
Mereka yang menyebut diri bibit penerus bangsa
Berbicara
Berorasi
Berdebat
Mereka bilang itu perjuangan
Perjuangan demi rakyat yang telah menafkahi
Tahun-tahun mereka duduk di kelas
Menuntut ilmu
Menggapai asa
Membangun ego

Lihat disana,
Mereka yang menyebut diri bibit penerus bangsa
Kini sudah dewasa
Berbicara dihadapan rakyat jelata
Mengumbar semua kecuali kerja nyata
Memuntahkan kata dengan bangga
Seolah mereka mahatahu
Dan rakyat hanyalah monyet dungu
Semua hanya demi sebuah usaha
Perlindungan ego dari benturan malu

Logika
Akuisisi
Fragmentasi
Akuntabilitas
Intervensi
Denominasi
Fluktuatif
Relatif
Inflasi
Deflasi

Tuan… kami rasanya ingin berteriak,
Kami tidak butuh kata,
Kami butuh nasi

*** 

Dia adalah Warna

Dia adalah Biru
Laut
Langit
Dan sepasang celana jeans usang di lemari
Dia Biru layaknya rindu
Dia Biru dan dia  sendu

Dia adalah Merah
Api
Mawar
Dan darah
Dia adalah Merah yang membara
Dia adalah Merah yang bergairah

Tapi dia adalah Abu-abu
Tidak merah dan tidak pula biru
Dia abu dan kelabu
Bagai mendung di hari Rabu
Dan hujan yang kemudian datang menyerbu

***

So those are the ones I wrote tapi gak dikirim. And this one is the one I finally send in (30 minutes before the deadline, yeah kids I like to live life dangerously).

***

Pesan Bumi untuk Planet Selanjutnya

Jika suatu saat nanti aku tak ada lagi,
Kawan,
Bolehkah kutitipkan padamu beban ini?

Maafkan aku yang tak lagi mampu,
Kawan,
Sesungguhnya, dan jika saja aku bisa
Urung aku membiarkanmu menanggungnya
Tak akan tega 'ku melihatmu menderita

Tapi, Kawan
Maafkan aku
Aku tak lagi mampu

Aku telah habis diperkosa ketamakan
Diinjak-injak keangkuhan
Dimutilasi ambisi
Dibakar oleh benci

Dan aku, Bumi,
Sudah tidak kuat lagi.

***

It didn't win, just as I expected. But hey, I was a newbie and it's only normal (isn't it?) But I'm proud of myself. Lagian, deklamatornya menang (YAAAAAAAYY!) He got 2nd place, isn't he just great? 

I guess that's all for this post. I'll be posting another drabble soon! Stay tune aight, Love?

xoxo
F.

Thursday, 29 October 2015

#7 Puisi Dini Hari // A Poem from the Dawn

Pukul 3 pagi itu elegi
Jika tidak bagi kalian, bagiku iya
Pukul 3 pagi yang ada hanya sunyi
Memperkuat suara-suara dalam kepala yang tak henti-hentinya berbunyi
Mencoba mengaburkan garis antara kenyataan dan imaji

Pukul 3 pagi itu penuh kontemplasi
Apa kau akan bangun pukul 6 nanti lalu mandi dan menyongsong hari
Atau memilih untuk tidur lagi hingga petang menyambangi

Pukul 3 pagi aku tidak sedang bermimpi
Tapi kenapa,
Kenapa aku bisa merasakan hadirmu disini?

//

But I love you when it was 4 am
And you were lying next to me
Eyes wide open
Consumed by your thoughts
Then you looked at me
And we closed our eyes
Intertwined our hands
And in that moment, baby
I know
That I want to consume your 4 am thoughts each moment in my life
In that moment, baby, I swear that gravity is not working for me and you
In that moment
I know those eyes will be mine forever

In collaboration with the dearest babe, Soraya. 

Monday, 19 October 2015

#6 Bila dan Jika

Bila dan Jika bertemu di Semesta.

Bukan, ini bukan metafora melainkan harfiah. Bila, perempuan di usia awal 20; senyum secerah langit musim panas, mata seteduh pohon beringin belakang sekolah. Jika, lelaki di usia pertengahan 20; beraroma seperti kopi dan masa lalu, seorang barista di sebuah kedai bernama Semesta.

Saat Jika menyapa, Bila tersenyum.

Secangkir kopi mengikuti duduknya Bila di sudut Semesta. Cappuccino. Standar memang, minuman kopi campur susu dengan hiasan berbentuk daun diatasnya yang dibuat dari hasil percampuran krim dengan busa dan tangan dingin Jika. Standar. Lagipula Bila memang standar seperti itu, ini menurut Bila sendiri tentu saja.

Menurut Jika, lain lagi. Bila adalah segala hal spesial bercampur dalam bentuk seorang perempuan. Lebih spesial daripada martabak dengan 3 butir telur bebek. Lebih spesial daripada promo spesial supermarket-supermarket menjelang hari raya. Lebih spesial daripada paket ayam goreng plus nasi di restoran fastfood sebelah. Bila adalah… Bila.

Bila akan duduk di sudut itu selama berjam-jam berhadapan dengan laptopnya, sesekali mencoretkan sesuatu diatas notebook dengan cover kulit sintetis. Sesekali menyesap cappuccinonya. Sesekali mengerutkan dahi. Sesekali mengetukkan jemari diatas meja kayu. Dan sesekali memanggil Jika untuk memesan sepotong cheese cake atau pai apel.

Dan Jika, Jika hanya akan berada di tempatnya, membuatkan kopi untuk para pelanggan. Sesekali mengantarkan pesanan. Sesekali mengobrol dengan pelanggan. Sesekali menjadi kasir dadakan. Sering kali mencuri pandang kearah Bila, penasaran apa yang sedang ia lakukan dibalik laptop berlambang apel yang sudah tergigit itu.

Menuliskah ia? Membacakah ia? Menggambarkah ia?

Jika tidak pernah memiliki jawaban pasti atas pertanyaan-pertanyaan tersebut, karena dalam setiap kesempatan dimana ia menghampiri meja Bila dengan secangkir kopi atau sepotong cheese cake, Bila selalu menutup laptopnya seolah apa yang sedang ia kerjakan adalah tugas rahasia dari presiden.

“Terimakasih” Bila selalu berkata dengan menyum, menunggu Jika kembali ke tempatnya sebelum membuka kembali laptop berlambang apel.

Bila selalu berhasil menggelitik rasa penasaran Jika. Bila adalah misteri, tapi bukan jenis misteri yang seram seperti dalam serial Goosebumps—buku bacaan Jika saat SD dulu. Bila adalah misteri seperti edelweiss adalah misteri. Bila adalah… Bila.

***

Bila tidak tahu sejak kapan karya-karyanya berubah menjadi sebuah koleksi candid portrait seorang barista bernama aneh itu. Ya, namanya Jika. Ia tahu dari plat nama plastik yang menempel di apron si barista bernama aneh saat dia mengantarkan cappuccino pesanannya.

Orangtua macam apa yang member nama anaknya Jika?

Seperti sebuah cerita dengan ending yang menggantung, nama itu rasanya seperti mengawang-awang. Jika… Jika hujan turun? Jika matahari terbit dari barat? Jika ku mati, kau juga mati?

Jika, Jika, Jika…

Ugh, rasanya Bila ingin mengantukkan kepalanya ke dinding Semesta saja.

Dicoretkannya pensil diatas notebook dengan frustasi. Garis demi garis tertoreh membentuk wajah seseorang. Seorang pria. Seorang pria dengan apron coklat dan mata sehitam espresso.

Sial. Bila merobek kertas itu dari bukunya dan meremasnya gemas. Kenapa ia malah menggambar Jika lagi?

***

Pukul 4 sore biasanya Bila meminta bill.

Ia kemudian akan membawa bill tersebut ke kasir sebelum akhirnya melangkah keluar Semesta, meninggalkan Jika yang lagi-lagi harus puas hanya dengan mencuri pandang dari jauh kearahnya. Begitu saja, tanpa tambahan apa-apa.

Hari ini pun begitu. Bila mengangkat tangannya, memanggil waiter, meminta bill, waiter memberikan bill, Bila membaca bill itu sesaat lalu menyelipkan sejumlah uang dan membawanya ke kasir, kemudian pergi.

Dan Jika, Jika masih di tempatnya, bersiap membuatkan pesanan pelanggan baru yang datang sesaat setelah Bila pergi.

Jika sedang sibuk meracik segelas frappucino saat salah seorang rekan kerjanya mendaratkan tepukan ringan di bahunya. “Apa?” katanya.

Rekannya tidak berkata apa-apa, melainkan hanya menyerahkan sebuah kertas lecek yang terlipat jadi dua. Ia menatap Jika dengan senyum penuh arti kemudian mengarahkan dagunya ke sudut tempat Bila biasa duduk.

“Kayaknnya barista kita punya fans nih”

Jika menuangkan frappucino racikannya ke gelas saji dan mengelap tangan ke apron sebelum menerima kertas tersebut dengan perasaan aneh. Siapa yang nge-fans dengan siapa? Dibukanya lipatan kertas dengan hati-hati, seolah ia sedang membuka gulungan sejarah peninggalan kerajaan zaman dulu.

Apa yang tertoreh diatas kertas itu berhasil menghapus perasaan anehnya tadi dan menggantinya dengan sebuah senyuman lebar di wajah. Masa bodoh kalau ia dianggap gila oleh rekannya maupun pelanggan yang sedang menunggu minuman mereka diracik olehnya karena dirinya yang tiba-tiba tersenyum seperti itu.

Satu-satunya yang ia pedulikan sekarang hanyalah coretan pensil yang membentuk wajahnya diatas kertas lecek tersebut. Dan Bila.

***

Bila tidak pernah merasa mencari apapun, tapi ia mendapati dirinya menemukan.

Jika tidak pernah merasa dirinya menemukan apapun, dan kini ia mendapati dirinya mencari.


Wednesday, 7 October 2015

#5 Don't Talk to Strangers on The Internet

Your mother used to tell you that you shouldn’t talk to strangers on the internet for he might be a 40 year old bald man who intended to kidnap you and tie you on a chair inside his dark cramped basement somewhere only God knows. For she might be a lesbian pedophile whose only purpose is drive her way into your body and stain you with her sin. For they might be a predator that would (and could) eat you up alive.

But, does your mother ever told you about this one? The one whose words feel more calming than the smell of rain on a lazy Sunday morning. The one whose words taste like ice cream on a hot summer days. The one whose words would echoes inside your head like a broken record playing on repeat (you’d remember every single damn of letters and punctuation they used on it, oh boy, you would). The one whose words you knew would slice your heart open when they leave but you also knew that you wouldn’t mind the bleeding and the numbing pain you’d feel.

I love you.

It’ll feel real, fuck it’ll feel so damn real. It’s as if you could clearly hear their voice whispering those words on your ear with their sleepy voice every morning. It’s as if they’re here, lying on the vacant side of your bed, arms wrapped around your waist, face nestled on the crook of your neck, and lips slightly brushed on your skin making your heart beats 10 times faster than its usual tempo. It’s as if you could feel their skin just right on your fingertips.

It’s as if they’re here.

Except they’re not. I love you.  No, the words doesn’t roll down their tongue coated in their sleepy voice greeting you the same way the sun greets the earth every morning. Instead it came on a form of digitally transmitted electromagnetic signal that is a plain Arial on your dimly lit phone screen. They’re not here. They won’t ever be here.

I love you too, but I wish I don’t.

Your mother used to tell you that you shouldn’t talk to strangers on the internet for they might be dangerous in every logical reason there is. But what she didn’t tell you is that they could make you fall deep in love with them in every illogical reason there is. And that, my dear, is far more dangerous than those things she used to tell you.